Tampilkan postingan dengan label My Hand Writting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Hand Writting. Tampilkan semua postingan

KETIKA BINATANG LEBIH MULIA DARI MANUSIA

Pada liburan sekolah yang lalu, tepatnya awal Januari 2010 saya menghabiskan liburan di kota kelahiran saya, Semarang. Setiap liburan, ibu saya menginginkan saya untuk duduk, diam di rumah, tidak boleh pergi kemana-mana. Yah, mungkin karena kami jarang bertemu. Dalam enam bulan sekali mungkin kami bertemu hanya seminggu, jadi total dalam setahun saya hanya bertemu ibu dan keluarga sebanyak setengah bulan saja. Jadi wajar kalau ibu saya memproteksi saya di rumah hehehe. Tapi saya tidak protes dan saya ikuti kemauan ibu karena toh itu sebuah permintaan yang wajar dan bukti kasih sayang dia pada saya. Maka sudah menjadi wajib bagi saya untuk membalas kasih sayangnya. Akhirnya, liburan itu saya isi dengan acara jalan-jalan dengan keluarga, membaca buku yang sengaja saya bawa dari perantauan atau menonton televisi yang nyaris tidak pernah saya lakukan di perantauan karena saya lebih asyik di depan laptop saya dibanding menonton televisi yang menjemukan.

Tak sengaja saat mengganti-ganti channel televisi, perhatian saya terhenti pada acara Oprah Winfrey. Saya tertarik untuk menghentikan tangan saya memencet remote control dan menyaksikan program ini karena topiknya selalu menarik. Acara itu sudah setengah jalan dan hampir selesai, hanya saja saya sangat terkesan dengan sebuah tayangan video yang ditampilkan, sebuah video yang mengharukan hampir semua audiens Oprah Winfrey yang ada di studio termasuk saya. Pada saat itu, ditayangkan sebuah video yang menggambarkan bahwa ada dua orang pelatih sirkus (kalau tidak salah). Mereka kakak beradik yang menolong seekor anak singa dan memeliharanya di flat mereka di Inggris. Anak singa itu kemudian diberi nama ”Christian”. Setiap sore mereka berdua bermain dan melatih anak singa itu di halaman belakang flat mereka. Dengan berjalannya waktu, sang anak singa semakin tumbuh besar. Mereka berdua kemudian memikirkan masa depan Christian kalau harus terus tinggal di flat bersama mereka. Mereka berpikir bahwa Christian tidak akan dapat tumbuh menjadi seekor singa yang sesungguhnya dan melangsungan keturunannya. Akhirnya mereka sepakat untuk mengirim Christian ke hutan Afrika karena disanalah Christian dapat mengembangkan potensi dirinya menjadi seekor singa yang sangat jantan dan akan hidup bahagia dengan habitatnya.

Setelah beberapa tahun para pelatih itu rindu dengan Christian dan mereka sepakat untuk menjenguk sang anak singa di hutan Afrika. Akan tetapi, pihak penjaga hutan yang dulu menerima serah terima Christian mengabarkan pada mereka bahwa sang anak singa itu kini telah tumbuh menjadi singa yang sangat besar, jantan dan sangat liar. Dia telah menjadi kepala kawanan singa dan tidak mungkin bagi mereka untuk menemui Christian karena bisa jadi mereka akan diterkam dan dimangsa. Meskipun demikian, orang tua angkat Christian ini tidak gentar untuk tetap menemui sang anak singa kesayangan mereka. Kekuatan cinta (the power of love) membuat mereka berani melewati resiko itu. Dengan berbekal keyakinan dan cintanya pada Christian, mereka berangkat menuju hutan Afrika dan sesampainya di sana mereka harus menunggu beberapa lama untuk mencari kawanan singa yang dipimpin oleh Christian. Tak lama kemudian sang anak singa ini muncul. Dia berjalan tenang dengan pandangan mata tajam ke arah tamu manusia di hadapannya. Begitu melihat Christian, salah satu dari pelatih itu memanggil sang anak singa dengan gerakan dan panggilan kesayangan yang biasa mereka lakukan ketika dulu melatih Christian di flat.

Sejurus kemudian, saya menyaksikan sendiri bahwa Christian ini berlari dengan kencang ke arah dua orang pelatih itu sebagaimana ia ingin menerkam mangsanya. Saat itu jantung saya berdegub dan berpikir bahwa singa itu pasti akan memangsa mereka. Tapi sungguh di luar dugaan. Pemandangan yang sangat menakjubkan dan mengharukan. Si Christian, sang anak singa, bukan menerkam mereka tapi langsung memeluk mereka berdua secara bergantian! Yah, memeluk mereka sebagaimana manusia memeluk manusia yang lainya. Sang Singa berdiri dan dua kaki depannya memeluk leher para pelatihnya, wajahnya mencium wajah mereka berdua secara bergantian! Secara bergantian! Sungguh kekuatan cinta yang luar biasa! Ternyata tidak hanya para pelatih itu yang menahan rindu tapi Christian juga merasakan hal yang sama! Mereka saling merindukan! Sebuah gambaran tentang cinta dan kasih sayang yang tulus dari dua makhluk Allah yang berbeda. Subhanallah, maa khalaqta hadzaa bathila....
Setelah itu, si Christian memperkenalkan pasangannya, singa betina, kepada orang tua angkatnya itu. Video itu sungguh menakjubkan, semua penonton berurai air mata setelah menyaksikannya dan para pelatih pemilik video itu pun di undang di acara itu untuk memberikan kesaksian.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari peristiwa ini. Video ini merupakan peringatan buat kita manusia bahwa mengapa terkadang manusia bisa lebih sadis daripada binatang dan mengapa terkadang justru binatang lebih mulia daripada manusia. Bagaimana tidak mulia ketika binatang saja mampu mengingat kebaikan yang telah dilakukan untuknnya. Sementara manusia sering lupa atau bahkan melupakan kebaikan orang lain yang telah dilakukan untuknya. Sebagai contoh, seekor kucing yang kita sayangi dan sering kita beri makan pasti akan sering mendekati kita. Tetapi seorang manusia tega menyakiti orang tua, guru, saudara, teman dan orang-orang yang menyayanginya. Jangankan membalas kebaikan mereka tapi justru setiap hari kita menyakiti mereka.

Sebagai contoh, saya pernah mendapat cerita dari salah seorang teman. Ada seorang ayah yang pekerjaannya jualan es doger. Mereka hidup seadanya, tapi sang ayah ini ulet dan punya cita-cita untuk menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Sang anak yang kebetulan juga punya potensi akhirnya berhasil menjadi insinyur dan bekerja di tempat yang bagus. Belum sempat dia membalas jasa orang tuanya, sang anak menikah dengan wanita pilihannya. Suatu hari, sang ayah sangat membutuhkan uang untuk modal usaha agar dia mampu membuka kios es sehingga tidak perlu berkeliling jualan es doger karena usianya yang mulai renta. Saat itu sebenarnya sang ayah sangat tidak sampai hati meminta pada anaknya tetapi dia melihat bahwa kehidupan ekonomi anaknya sangat mapan. Dengan sangat terpaksa sang ayah berkunjung ke rumah anaknya yang berada di luar kota untuk meminjam uang sebesar 3 juta. Tetapi harapan sang ayah tinggal harapan. Dengan tegas menantunya menjawab permintaan sang ayah dengan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang sebanyak itu. Sungguh, kejam! Padahal mereka memilikinya di tabungan. Entah kikir atau setan apa yang menghinggapi sang anak dan menantu sehingga tega pada ayah mereka. Akhirnya hati sang ayah sangat terluka setelah mendengar jawaban sang anak dan sejak itu dia berjanji untuk tidak meminta bantuan lagi sampai akhir hayat.

Saya sangat terharu mendengar cerita ini, sungguh terkadang mengapa manusia bisa begitu kejam, tanpa punya belas kasihan kepada sesamanya terlebih pada orang tua yang telah berjasa banyak untuk hidupnya padahal manusia dikaruniai Allah akal dan hati. Hanya karena orang tua kita tidak sempurna kemudian kita menyakiti mereka....Ya Allah ampuni hamba jika hamba pun pasti pernah menyakiti orang tua baik dengan lisan dan perbuatan saya...hamba mohom rahmatMu......
Mengapa manusia tidak berusaha untuk menjadi mulia dibanding hewan yang tidak punya akal?

Allah berfirman dalam QS. AT-Tin : 4-6, Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Tsumma radadnahu asfala saafiliin. Illalladziina aamanu wa ’amilushaalihaati falahum ajrun ghairu mamnuun.
”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Marilah kita mulai dari diri sendiri untuk menjadi manusia yang mulia agar kedudukan kita menjadi paling tinggi di antara semua makhluk ciptaan Allah SWT. Janganlah kita menjadi orang yang paling disayangi tetapi justru kita menjadi orang yang paling menyakiti. Marilah kita menjadi orang yang paling disayangi dan yang paling mencintai orang-orang yang menyayangi kita......Rasulullah SAW bersabda, ”Maa laa yurham wa laa yarhamhullah”....Barangsiapa yang tidak berkasih sayang kepada sesama, maka Allah tidak menyayanginya.....

Temuilah orang tua anda, adik/kakak anda, saudara anda, guru anda, sahabat anda, teman-teman anda atau orang-orang yang anda sayangi...dan katakan....WALLAHI....DEMI ALLAH, SUNGGUH SAYA MENCINTAIMU KARENA ALLAH.....Let’s try!

Depok, 12 Februari 2010

PERTEMUAN TERAKHIR........

Pertemuan terakhir merupakan sebuah momen yang paling tidak disukai oleh setiap orang, saya kira. Karena dalam pertemuan itu pasti akan membawa haru, sedih, tapi sekaligus bahagia. Mengapa sedih? Tentu saja karena kita tidak akan bertemu dengan orang-orang yang kita temui terakhir itu. Mengapa haru? Mungkin dalam pertemuan itu ada pesan-pesan khusus yang akan disampaikan dan membuat kita haru. Mengapa bahagia? Mungkin pertemuan itu membawa bahagia bagi orang yang meninggalkan atau kita tinggalkan.

Sehari setelah seluruh manusia di dunia merayakan tahun baru, tepatnya tanggal 1 Januari 2010 pukul 24.00, saya mendapat sms sebuah kabar duka dari adik teman kos saya, salah satu orang yang berjasa dalam perantauan saya. Kabar itu sangat mengejutkan, Muhammad Abdul Ghofur, adik kesayangan teman saya ini meninggal dunia karena tenggelam di Setu Babakan Jagakarsa, tepat pada hari Jum’at siang. Tentu saya sedih dan berduka mendengarnya karena saya cukup kenal dengan anak ini. Sering minta tolong, lucu, dan sedihnya…dia baru saja diwisuda bulan November lalu. Anak laki-laki harapan keluarga. Terakhir saya melihat dia dari angkot ketika dia mau menyeberang jalan dekat kantor pos, tapi saya tidak dapat memanggil atau menyapa dia, hanya bisa melihat dari jauh. Penyesalan saya muncul tatkala saya mengingat percakapan terakhir saya yang menunjukkan bahwa saya sedikit keberatan direpotin oleh dia (Ya Allah ampunilah hamba, karena kondisi saya yang lelah saat itu). Kalau tahu bahwa itulah pertemuan terakhir saya dengan dia, tentu saya akan melapangkan dada untuk menolongnya. Tapi sayang…manusia memang hanya punya keterbatasan dan hanya menurutkan ego saja.

Pertemuan terakhir dengan kakak seperjuangan di dakwah sekolah juga cukup membawa kenangan duka…saat itu kami meminta pendapatnya untuk mengadakan acara reuni, waktu itu ia tidak menemui kami dan hanya memberikan pesan lewat surat bahwa intinya diperbolehkan asal tetap menjaga kaidah-kaidah syari’at yang sudah ditetapkan. Seminggu setelah itu, kami mendengar kabar bahwa dia telah menghadap Allah SWT. Disusul kemudian kakak aktivis akhwat yang juga sahabat terdekat, terbaik yang pernah saya miliki, yang paling mengerti setelah ibu dan keluargaku…pertemuan terakhirku di RS. Roemani ketika ia terbaring sakit. Saat itu dia ingin agar aku menginap di RS untuk menemaninya. Tapi aku tidak memenuhinya dengan berpikir bahwa lusa saya akan datang lagi menjenguknya. Ternyata Allah berkehendak lain, tepat sehari setelah saya menjenguk dia, besok paginya ba’da shubuh, hari Jum’at, dia dipanggil oleh Allah SWT. Mengakhiri segala penderitaannya dan meninggalkan banyak kenangan buat saya. Saat itu, saya betul-betul sedih, baru saat itu saya merasakan betapa pedihnya kehilangan sahabat terdekat…saya sempat terpikir bahwa tak ada orang yang bisa menggantikan dia..saya menyesal karena tidak memenuhi keinginan terakhirnya untuk menemaninya semalam waktu itu Hanya saja yang sedikit menghibur, saya sempat mentalqinnya dan menyaksikan air matanya berlinang menahan sakit sakaratul maut dan perpisahan dengan orang-orang yang dikasihinya…waktu itu saya merasa bahwa semua beban tugas dakwah sekolah harus saya pikul seorang diri. Saya kehilangan partner handal yang selalu berkorban di belakang layar untuk dakwah…itulah yang membuat saya menangis sampai beberapa waktu lamanya…
Pertemuan terakhir dengan teman sekelas, teman yang paling papa di kelas tapi tak pernah bersedih dan mengeluh, Mira alm. Saat itu saya silaturahim ke rumahnya di Bekasi yang sangat sederhana. Kedatangan saya untuk memenuhi utang janji yang sudah saya buat mungkin setahun sebelumnya…dan ternyata itu pertemuan terakhir saya dengan dia karena satu bulan kemudian, saya mendapat kabar dia meninggal karena kecelakaan jatuh dari angkot…

Pertemuan terakhir dengan ayah teman saya juga menyisakan kenangan karena saat itu beliau mencurahkan isi hatinya terhadap masa depan anak-anaknya kalau seandainya dia sudah tidak ada karena dia merasa hidupnya sudah tidak lama lagi…dan ternyata sebulan kemudian, beliau menghadap Sang Khaliq…
Pertemuan terakhir dengan bapak saya terjadi pada saat lebaran 2 tahun yang lalu. Saya sangat menyesal karena saat itu, saya tidak banyak bicara seperti biasanya. Hanya saja bapak saya selalu minta di foto dengan kamera digital saya. Sebuah kebiasaan yang aneh, saya rasa. Dan kata terakhir yang saya ingat adalah, “Bapak ga mau kalau kamu sungkem kok ga pake busana muslim.” Yah…hanya itu…dua bulan setelah itu, tanpa kontak fisik dan telpon, bapak meninggalkan kami semua.... tepat pada hari raya Idul Adha....walau kami sangat bersedih, tapi ada kenangan manis yang menjadi warisan berharga buat kami dan ibu (istrinya). Menurut pengakuan ibu, seminggu sebelum bapak meninggal, bapak berkata,”Aku punya uneg-uneg yang belum aku sampaikan dan aku kepikiran sekarang ini. Ternyata dari seluruh wanita di dunia cuma kamu satu-satunya yang paling aku cintai!” Ah...bapak! sungguh kenangan romantis yang tak akan pernah dilupakan oleh ibu sebagai tiket masuk syurga karena bapak telah ridho pada ibu. Dan setelah bapak meninggal, ibu berkata padaku,”Tak ada laki-laki yang lebih tampan melebihi bapakmu...”. Hehehe...saya tertawa kecil ketika ibu bicara seperti itu. Yah...kisah cinta mereka sungguh berliku dan endingnya sangat romantis menurutku...dari mereka aku belajar tentang cinta, kasih sayang, perhatian, pelayanan, perjuangan, pengorbanan, dan terutama kesetiaan. Nilai-nilai yang sangat mahal harganya saat ini di tengah dunia yang sarat dengan hedonisme dan kebahagiaan semu yang hanya menilai segala sesuatu dengan ukuran materi. Jika saya boleh bercita-cita sebagai seorang istri, tentu saya ingin menjadi seperti ibu, wanita yang paling dicintai oleh suaminya hingga akhir hayat dan mendapat ridhonya:)

Yah, mungkin dari tulisan ini kita dapat mengambil hikmah bahwa kita tidak pernah dapat menduga bahwa terkadang pertemuan dengan teman kita, saudara kita, atau orang-orang yang kita sayangi ternyata merupakan pertemuan terakhir kita dengan mereka....Oleh karena itu berikanlah yang terbaik, jangan menyakiti baik lisan maupun perbuatan, pandangi wajahnya dengan penuh kasih sayang ketika kita diberi kesempatan Allah untuk bertemu dengan mereka, anggaplah bahwa itu mungkin pertemuan terakhir kita dengan mereka agar kita tidak menyesal ketika sewaktu-waktu orang-orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita untuk selamanya.............

Depok, 13 Januari 2009 08:54 PM

JAGALAH LENTERA ITU...........

Ketika saya tinggal di Sekaran, daerah sekitar kampus UNNES yang bernuansa pegunungan dan pedesaan, saat itu sangat sepi dan lampu penerangan untuk jalan masih sangat jarang. Akibatnya, kami tidak pernah berani keluar rumah setelah maghrib. Suatu saat, terpaksa saya dan teman kos harus mengunjungi salah satu teman yang kosnya cukup jauh dari tempat kami. Kami berjalan berjejer berempat dengan bergandengan tangan karena betul-betul jalanan gelap dan tidak ada lampu penerangan baik dari rumah penduduk maupun dari pemerintah. Di tengah perjalanan kami melihat titik-titik cahaya di depan kami yang cukup menenangkan hati kami yang bergemuruh karena takut he..he..sebenarnya kami tidak takut hantu tapi kami takut dengan manusia yang berubah jadi setan. Ternyata titik-titik cahaya itu adalah kunang-kunang yang terbang di sekitar kami. Seketika itu, saya berkata kepada teman-teman saya, "Wah, alangkah ngerinya yah hidup kita tanpa hidayah dari Allah" Seperti saat ini kita berjalan di tengah kegelapan tanpa cahaya.

Teman-teman, ketahuilah bahwa cahaya itu adalah hidayah Allah, cahaya itu adalah Qur'an dan Sunnah, ibarat lentera yang akan menuntun jalan kita yang gelap gulita menuju akhirat, terminal terakhir hidup kita. Sayangnya, hidayah itu sangat mahal, lentera itu tidak dijual walaupun kita punya uang segunung untuk membelinya. Lentera itu hanya diberikan kepada orang-orang yang sangat disayangi oleh pemilik lentera itu atas kehendaknya. Ketika seseorang telah diberi lentera itu, maka hal itu lebih berharga dari dunia dan seluruh isinya!

Teman, jika engkau merasa pernah mendapatkan lentera itu, jagalah dia baik-baik dengan sekuat tenaga, walaupun untuk itu kamu harus bersusah payah dan mengalami berbagai kepedihan. Jika nyala lentera itu hampir redup, tambahkanlah minyaknya agar ia tetap menyala terang di relung hatimu. Jangan pernah biarkan ia padam. Jangan biarkan badai itu menjatuhkan lentera itu hingga hancur berkeping-keping karena lentera itu terbuat dari kristal yang sangat ringkih. Peganglah ia kuat-kuat, meskipun tanganmu kesakitan seperti saat engkau memegang bara api.

Teman, jangan sampai pemilik lentera itu murka karena kita tidak dapat menjaga lentera mahal yang telah diberikannya. Tapi jadikanlah lenteramu sebagai lentera yang dapat menerangi orang-orang disekitarmu hingga Sang Pemilik lentera berkenan memberikan lentera yang sama kepada orang-orang itu khususnya orang-orang yang sangat kau cintai dan sayangi...............

For: My parents, my family, my beloved students, and my friends who I love most.
Ku tulis dengan sepenuh hati dan jiwa disertai uraian air mata rindu akan Allah Rabbul izzati.....

Baby's Language

Seringkali ibu-ibu yang memiliki bayi mengeluhkan kalau anaknya suka rewel. Mereka cukup repot dalam mengatasi hal ini. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh sang ibu untuk menenangkan anaknya, dari memberikan susu, makanan, sampai mendongeng cerita yang tak masuk akal. Ternyata akar permasalahan dari kondisi anak yang rewel adalah karena mereka mengalami stress. Pesan yang dia komunikasikan kepada ibunya tidak dapat diterima oleh sang ibu alias bahasanya tidak dipahami.

Saat menonton Oprah Winfrey Show pada tanggal 1 Januari 2008 yang lalu, ada hal menarik yang perlu dicatat oleh para ibu. Dalam acara itu, Oprah menghadirkan seorang linguis (pakar bahasa) yang telah meneliti bahasa bayi. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ada 5 bahasa dasar yang dimiliki oleh bayi berusia antara 0-3 bulan.
Kelima bahasa itu adalah:
OWH = sleepy (mengantuk)
EH = uncomfort (minta disendawa)
HEH = thirsty (haus)
NEH = hungry (lapar)
EIR = lower gas (buang air)
Tentu saja disini tidak bisa menyertakan gambar ekspresi bayi ketika memproduksi ujaran tersebut, mungkin anda bisa mengunduhnya melalui website Oprah Winfrey.

Dengan memahami kelima bahasa bayi tersebut ternyata hal ini membantu para ibu mengatasi anaknya yang rewel. Sejak itu anak-anak mereka jarang rewel, karena sebelum menangis berkepanjangan sang ibu telah mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya.
Bagi ibu muda yang baru saja memiliki bayi atau ibu-ibu yang sedang memiliki bayi, SELAMAT MENCOBA !

PENGARUH PERSPEKTIF SOSIOLINGUSITIK

PENGARUH PERSPEKTIF SOSIOLINGUSITIK
BAHASA DAN KOMUNIKASI DALAM PENGAJARAN BAHASA

Bahasa dan komunikasi memiliki kaitan yang sangat erat satu sama lain. Bahasa sebagai sistem lambang, dan komunikasi sebagai sistem penyampaian pesan menjadi dua hal yang tak terpisahkan. Sebagai alat komunikasi, bahasa menjadi salah satu penentu keberhasilan dalam suatu proses komunikasi. Menurut Brown (2000:4) “Language is a system of arbitrary conventionalized vocal, written, or gestural symbols that enable members of a given community to communicate intelligibly with one another. Bahasa sebagai alat komunikasi mengandung pengertian sebagai suatu sistem yang bersifat sistematis dan sistemis. Artinya bahwa, bahasa merupakan kesatuan dari beberapa subsistem, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik yang dapat dikaji secara terpisah (Chaer, 2003:4). Selain itu, bahasa juga harus dapat dipahami satu sama lain oleh pelaku komunikasi sehingga tujuan komunikasi dapat tercapai.
Bahasa juga dapat menggambarkan suatu hubungan sosial dalam proses komunikasi itu sendiri. Gee menyatakan bahwa,
Many people think that the primary purpose of language is to “communicate information.” However, language serves a great many functions and giving and getting information, even in our new information Age, is by no means the only one. The following two closely related functions: to support the performance of social activities and social identities and to support human affiliation within cultures, social groups, and institutions.(2005:1)
Sebagaimana Robin juga menyatakan, ”A language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates.” (1981:9). Ada satu kata kunci dari definisi tersebut, yaitu “social group cooperates” yang berarti bahwa dalam proses berbahasa dapat menggambarkan kerjasama dari suatu kelompok sosial tertentu. Salah satunya yaitu, gambaran satus sosial penutur (addresser) dan petutur (addressee). Dengan kata lain bahwa, proses berbahasa sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dimana peristiwa tutur itu terjadi.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa kajian soisolinguistik sangat berpengaruh dalam analisis suatu ujaran dalam proses komunikasi. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah perspektif sosiolinguistik bahasa dan komunikasi ? Kemudian, bagaimana pengaruhnya dalam pembelajaran bahasa ?
Perspektif Sosiolinguistik Bahasa dan Komunikasi
Kajian sosiolinguistik muncul sebagai kritik atas aliran strukturalis yang salah satu tokohnya adalah Franz Boas. Mereka hanya mengkaji bahasa dari aspek parole atau hal yang dapat diamati. Strukturalis memandang bahasa sebagai sebuah struktur yang dapat dilihat. Analisis bahasa hanya sampai pada tataran permukaan (surface structure). Makna sebuah kalimat hanya ditentukan oleh struktur dari unsur-unsur fungsi bahasa yang membentuknya.
Sebagaimana Chandler memberikan definisi yaitu :
Strukturalism ; The primary concern of the structuralists is with system or structures rather than with referential meaning or the specificities of usage (see langue and parole). Structuralist regard each language as a relational system or structure and give priority to the determining power of the language system (2002:242).
Paradigma tersebut memunculkan istilah yang dikenal dengan “Formalism” yaitu aliran yang menganalisis bahasa hanya dilihat dari keapikan bentuknya saja. Dalam kajian semiotik, kaum strukturalis mengesampingkan konteks sosiokultural. Mereka tidak mengkaji hubungan antara penanda (signifiers) dan bidang tanda (signifield) yang secara ontologi bersifat arbitrer, tetapi secara sosial hubungan tersebut tidak bersifat arbitrer. Sebuah ujaran tidak hanya dilihat dari bagaimana ujaran itu secara struktural diujarkan (how) tapi juga harus dipertimbangkan mengapa ujaran itu secara sosial diujarkan (why) (Chandler, 2002:210).
Kelemahan pandangan formalism itulah yang memunculkan aliran baru yang dikenal dengan istilah “Fungsionalism”.
Kridalaksana menyatakan bahwa,
Fungsionalisme adalah gerakan dalam linguistik yang berusaha menjelaskan fenomen bahasa dengan segala manifestasinya dan beranggapan bahwa mekanisme bahasa dijelaskan dengan konsekuensi-konsekuensi yang ada kemudian dari mekanisme itu sendiri (2002:33).
Aliran ini berangkat dari perspektif ilmu sosiolinguistik yang menitik beratkan pada hubungan bahasa dengan masyarakat. Titik berat kajian sosiolinguistik adalah hubungan bahasa dengan konteks dimana bahasa itu digunakan. Ketika berbicara, seorang penutur akan menggunakan bahasa yang berbeda sesuai dengan konteks sosialnya. Hal ini menandakan bahwa, ada fungsi sosial bahasa dan makna sosial dalam setiap ujaran (Holmes, 2001:1). Perbedaan itu bukan terletak pada struktur dan wujud ujaran, tetapi lebih kepada siapa dan dimana peristiwa tutur itu terjadi serta tujuan penutur.
Menurut Kridalaksana (2002:33-34), “Konsep utama dalam fungsionalisme ialah fungsi bahasa dan fungsi dalam bahasa”. Menyangkut yang pertama, sikap fungisionalistis diungkapkan dengan pendekatan berikut:
(1) analisis bahasa mulai dari fungsi ke bentuk;
(2) sudut pandang pembicara menjadi perspektif analisis;
(3) deskripsi yang sistematis dan menyeluruh tentang hubungan antara fungsi dan bentuk;
(4) pemahaman atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa;
(5) perhatian yang cukup pada bidang interdisipliner, misalnya sosiolinguistik, dan pada penerapan linguistik bagi masalah-masalah praktis, misalnya pembinaan bahasa.
Dapat disimpulkan bahwa, konsep fungsi bahasa dalam aliran fungsionalis menganalisa bahasa dimulai dari fungsi ke bentuk, makna bahasa dilihat dari sudut pandang penutur. Berbeda dengan kaum strukturalis yang menganalisa bahasa dari bentuk ke fungsi dan makna ditentukan oleh bentuk bahasa dan dilihat secara leksikal. Sedangkan konsep fungsi dalam bahasa memandang struktur bahasa bukan hanya dianggap sebagai jaringan unsur subyek, predikat, obyek, tetapi lebih sebagai jaringan fungsi. Jika salah satu unsur berubah maka unsur yang lain harus menyesuaikan (Kridalaksana, 2002:34). Analisis bahasa dengan aliran fungsionalism biasa dikenal dengan istilah deep structure.
Dalam menganalisis bahasa menurut konteks sosiokultural itu bukan hanya meliputi bentuk-bentuk bahasa, melainkan juga peristiwa bahasa. Pengetahuan bahasa mencakup pengetahuan tentang wacana dan pengetahuan tentang bagaimana menggambarkannya dalam komunikasi. Gambaran bahasa dalam komunikasi itu dipengaruhi oleh elemen-elemen komunikasi. Holmes (2001:8-9) membaginya ke dalam dua aspek yaitu, faktor sosial (social factor) dan dimensi sosial (social dimension). Faktor sosial terdiri dari empat elemen :
1. The participant : who is speaking and who are they speaking to ?
2. The setting or social context of the interaction : where are they speaking ?
3 The topic : what is being talked about ?
4. The function : why are they speaking ?
Aspek dimensi sosial juga terdiri dari empat elemen :
1. A social distance : jarak hubungan sosial penutur dan petutur (Intimate or Distant)
2. A status : status sosial antara penutur dan petutur (Superior or Subordinate)
3. A formality : situasi formal atau informal
4. Two functional : berhubungan dengan tujuan atau topik interaksi (Referential or Affective).
Menurut Holmes, faktor sosial dan dimensi sosial memengaruhi proses berbahasa dalam komunikasi. Sementara Cook (1993:25) merincinya lagi menjadi tujuh elemen komunikasi. Ketujuh elemen tersebut yaitu,
1. Penutur (the addresser) : orang yang menyampaikan pesan asli.
2. Petutur (the addressee) : orang yang menerima pesan asli.
3. Media (the channel) : media yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
4. Bentuk pesan (the message form) : pilihan struktur dan kata khusus dalam pesan yang disampaikan.
5. Topik (the topic) : informasi yang terkandung dalam pesan.
6. Koda (the code) : bahasa atau dialek
7. Setting (the setting) : konteks sosial atau fisikal.
Dari ketujuh elemen tersebut Cook mengelompokkannya ke dalam istilah fungsi makro (macro-functions) dan fungsi mikro (micro-functions). Fungsi makro berdasarkan pada fokus tujuan dan keinginan dari penutur ketika berbicara. Fungsi ini terdiri dari tujuh elemen, yaitu
1. Fungsi emosi (the emotive function) : ujaran mengkomunikasikan atau mengekspresikan emosi penutur. Dengan kata lain, fungsi ini fokus pada penutur (addresser).
Contoh : 'Oh no!', 'Fantastic!', 'I'm feeling great today'
2. Fungsi direktif (the directive function) : ujaran yang berusaha untuk membuat petutur melakukan sesuatu untuk penutur. Dengan kata lain, fungsi ini fokus pada petutur (addressee).
Contoh : 'Clear the table', 'Please help me!', 'I'm warning you!'.
3. Fungsi referensial (the referential function) : ujaran yang berisi informasi. Fungsi ini fokus pada isi pesan atau informasinya.
Contoh : At the third stroke it will be three o'clock precisely.
4. Fungsi Metalinguistik (the metalinguistic function) : ujaran yang merupakan komentar pada bahasa itu sendiri. Fokus pada aspek-aspek yang ada dalam bahasa itu sendiri.
Contoh : 'Hegemony' is not a common word.
5. Fungsi estetis (the poetic function) : ujaran yang fokus pada keindahan bentuk bahasa. Contohnya : puisi, motto yang unik, rima, dan sebagainya.
6. Fungsi fatis (the phatic function) : ujaran yang mengungkapkan solidaritas atau empati dengan orang lain.
Contohnya : ”Hello, Lovely weather”, ”Can you hear me ?”
7. Fungsi kontekstual (the contextual function) : ujaran yang menghasilkan jenis khusus komunikasi.
Contoh : 'Right, let's start the lecture', 'It's just a game'
Fungsi makro yang dijelaskan oleh Cook dan Holmes sedikit berbeda. Holmes hanya mengelompokkan fungsi ujaran (function of speech) ke dalam enam elemen, sama dengan Cook, tetapi tidak memasukkan fungsi kontekstual ke dalamnya (Holmes, 2001:259).
Selanjutnya, Cook (1993:27) mengembangkan fungsi makro tersebut ke dalam lingkup fungsi yang lebih kecil lagi. Hasil pengembangan itu dikenal dengan istilah fungsi mikro (micro-function). Fungsi mikro dikembangkan dari salah satu elemen fungsi makro. Fungsi ini bisa dikatakan sebagai variasi bentuk ujaran yang memiliki satu fungsi makro yang sama. Contohnya, dalam fungsi direktif, penutur berusaha untuk membuat petutur melakukan sesuatu untuk kepentingan dirinya. Dalam hal ini bentuk ujaran direktif tidak harus selalu dalam bentuk kalimat perintah (imperative or exclamation), tetapi bisa dalam bentuk kalimat tanya (question) atau kalimat permintaan (request). Cook menjelaskan fungsi mikro ini dengan skema sebagai berikut :
Questions requests for action
orders requests for information
directive function requests requests for help
pleas request for sympathy
prayers
Pengaruh Perspektif Sosiolinguistik Bahasa dan Komunikasi dalam Pembelajaran Bahasa
Pendekatan dan metode pembelajaran bahasa tidak bisa lepas dari paradigma formalism dan fungsionalism. Paradigma formalism dalam pembelajaran bahasa memandang bahwa belajar bahasa sebagai tujuan (learning language as an end). Sehingga fokus pembelajaran terletak pada bahasa sebagai ilmu. Seorang pemelajar akan mempelajari sistem yang ada dalam bahasa tersebut. Mereka berkutat pada struktur atau grammar dan analisis secara sintaksis. Tentu saja metode pembelajaran yang dipakai bersifat strukturalis atau yang dikenal dengan Grammar Translation Method (GTM). Pembelajaran bahasa difokuskan pada penguasaan tata bahasa atau grammar.
Kelemahan dari metode pembelajaran itu adalah membuat pemelajar menguasai tata bahasa tetapi tidak mampu menggunakannya dalam komunikasi. Kondisi ini menyebabkan perubahan paradigma pembelajaran bahasa yang dipengaruhi oleh aliran fungsionalism. Paradigma fungsionalism memandang bahwa belajar bahasa adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan. Pembelajaran bahasa lebih fokus pada fungsinya dalam komunikasi. Sehingga pembelajaran dilakukan dengan pendekatan komunikatif (communicative approach). Dalam pendekatan komunikatif, bahasa diajarkan berdasarkan konteksnya. Pada akhir pembelajaran bahasa, seorang pemelajar diharapkan memiliki empat kompetensi komunikatif (communicative competence), yaitu penguasaan tata bahasa (Grammatical competence), penguasaan konteks sosial bahasa dalam komunikasi (Sosiolinguistic competence), kemampuan menginterpretasi hubungan pesan secara keseluruhan dalam wacana (Discourse competence) dan kemampuan dalam strategi komunikasi (Strategic competence) (Richards, 1994:71).
Sebagai pembelajar bahasa, seharusnya mempertimbangkan faktor kebutuhan dari pemelajar sebelum membuat kurikulum, silabus, materi dan metode pembelajaran. Sehingga mutu pembelajaran dapat terjaga, artinya ada pertemuan antara kebutuhan pemelajar bahasa dan pelayanan yang diberikan oleh pembelajar bahasa.
Kesimpulan
Bahasa dan komunikasi terkait dengan fungsi bahasa di luar konteks dan fungsi bahasa dalam konteks. Fungsi bahasa di luar konteks dipengaruhi oleh strukturalism sehingga dikenal dengan formalism. Aliran ini memandang bahasa hanya dari sisi bentuknya saja (form). Sedangkan fungsi bahasa dalam konteks dipengaruhi oleh perspektif sosiolinguistik sehingga dikenal dengan fungsionalism. Aliran ini memandang bahasa dari aspek bentuk dan fungsinya (form and function).
Fungsi bahasa kemudian dikembangkan oleh Cook dan Holmes dan mengelompokkannya ke dalam fungsi makro dan fungsi mikro. Cook mengelompokkan fungsi bahasa makro ke dalam tujuh elemen fungsi, sedangkan Holmes hanya enam elemen fungsi. Selain itu Cook mengembangkan lagi fungsi makro menjadi lingkup yang lebih kecil lagi yaitu fungsi mikro yang merupakan pengembangan dari satu elemen fungsi makro, sedangkan Holmes tidak melakukannya.
Perkembangan fungsi bahasa tersebut membawa pengaruh pada pembelajaran bahasa yang semula hanya bersifat formalis menjadi bersifat fungsionalis. Artinya, pembelajaran bahasa dititik beratkan pada kebutuhan pemelajar, salah satunya kemampuan menggunakan bahasa dengan baik dan berterima dalam komunikasi.

SENYUM ITU MEREKAH KEMBALI.......

”Aku akan menikah minggu depan,” kata teman saya. Tentu saja saya menyambut ucapan itu dengan suka cita. Tapi ada kejanggalan yang saya tangkap dari raut mukanya. Tidak biasanya seorang calon pengantin mengabarkan pernikahannya dengan muka murung, sehingga hal ini menimbulkan tanya di hati saya. Ada Apa Dengan Dia ? Lalu saya beranikan diri untuk bertanya, ”Ada apa dengan pernikahanmu ? Mengapa kamu mengabarkan kepadaku dengan muka yang murung ? Sedangkan teman-teman yang lain biasanya mengabarkan pernikahannya dengan mata berbinar-binar. Calon suamimu orang yang sholeh, berpenghasilan, kurang apa lagi ?”
”Calon suamiku mengidap kanker otak stadium III,” jawab teman saya.
Cukup kaget saya mendengarnya. Lalu saya bertanya, ”Bukankah kamu sudah menentukan pilihan ? Kamu sudah ridha kan dia jadi suamimu ?”
”Iya,” jawab teman saya masih menunduk. Selama percakapan itu dia tidak menatap saya, ada sejumput kesedihan yang ingin dia sembunyikan dari saya.
”Oke, kalau kamu sudah menjatuhkan pilihan dan kamu sudah ridha, tugasmu adalah tawakal,” hibur saya. Pernahkan kamu mendengar sebuah riwayat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tercinta tentang dialog antara seorang pemuda dan malaikat Izrail ? Saat itu ada seorang pemuda, dia sudah berusia 30 tahun. Kemudian hari itu malaikat Izrail datang padanya untuk mencabut nyawanya. Malaikat Izrail menyamar sebagai manusia dan berdialog dengan pemuda itu.
”Aku malaikat Izrail, pada hari ini aku ditugaskan untuk mencabut nyawamu,” kata malaikat Izrail.
Pemuda itu menjawab, ”Tapi besok pagi aku akan menikah.”
Setelah mendengar jawaban pemuda itu malaikat Izrail berkata, ”Baiklah, Allah menunda kematianmu sampai besok pagi.” Lalu berlalulah malaikat Izrail dan menghilang.
Esok harinya pemuda itu melangsungkan pernikahannya. Kemudian datang kembali malaikat Izrail yang menyamar sebagai manusia menghampiri pemuda itu. Dengan serta merta pemuda itu bertanya, ”Mengapa engkau belum mencabut nyawaku ?”
”Allah menunda kematianmu 30 tahun lagi disebabkan pernikahanmu,” jawab malaikat Izrail.
Tidakkah kau yakin dengan peristiwa itu ketika yang menyampaikan adalah orang yang dijamin hidupnya oleh Allah SWT ? Itulah salah satu berkah dari pernikahan. Tentu saja jika pemuda itu ditunda kematiannya 30 tahun lagi pastinya dia sudah beranak cucu. Jika dia meninggal pada usia 60 tahun, sudah menjadi standar usia manusia karena Rasulullah meninggal dunia pada usia 63 tahun.
Setelah mendengar cerita itu, ada senyum yang merekah dibibirnya, kepalanya mulai terangkat dan matanya berbinar-binar. Akhirnya dilangsungkan sebuah pesta pernikahan yang sangat meriah dan mewah. Setelah itu kegiatan teman saya yang utama adalah mengantar suaminya kontrol dokter ke rumah sakit dan menjaga makanannya.
Semoga Allah memasukkanmu ke dalam golongan orang yang sabar dan amal sholehmu kepada suami bisa memuliakanmu dan menghantarkan kamu ke syurga. Selamat berjuang teman!

STRESS

Kata ini sering kita dengar dan diucapkan oleh banyak orang. Dengan mudahnya seseorang mengatakan ”stress” bahkan ada salah seorang teman yang setiap kali mengatakan ”stress” untuk melegitimasi tingkah laku aneh yang dia lakukan. Seakan-akan kita bisa berbuat apa saja dengan alasan lagi ”stress”. Padahal keadaan diri kita masih baik, masih bisa makan 3 X sehari, masih bisa beribadah dengan tenang, masih bisa bekerja dengan baik, masih diberi kesehatan, tapi tidak sadar kita mendoakan diri kita sendiri agar masuk ke dalam kondisi gangguan jiwa yaitu ”stess”. Sehingga suatu kali saya mengatakan,”Kalau kamu mengatakan stress itu hal biasa bagi saya, berarti kamu lagi normal, tapi kalau kamu mengatakan tidak stress, nah baru saya heran berarti ada something worng with you.” Teman saya tertawa mendengar pernyataan saya. Seharusnya seorang muslim tidak layak mengatakan demikian walau dalam kondisi terjepit sekalipun. Jika Rasulullah pernah bersabda bahwa ”Setiap ucapan adalah do’a” maka kita perlu berhati-hati memilih kosakata untuk lisan kita. Ada amalan mujarab yang dicontohkan Rasulullah untuk menghindari kondisi ini yaitu ”Dzikrullah”. ”Alla bidzikrillahi tathmainnul quluub.” Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang....
Selamat mencoba........semoga tidak saya dengar lagi kata ”stress” itu lagi.

KARYA SASTRA

Dulu waktu kecil saya suka membaca buku cerita entah itu dongeng si Kancil, cerita di majalah Bobo atau cerita legenda dari nusantara. Setiap pergi ke perpustakaan daerah, saya pasti meminjam buku cerita. Saat sekolah tingkat menengah saya mulai suka membaca novel karya sastra angkatan pujangga baru seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, Layar Terkembang, dsb. Ternyata karya sastra tersebut sebagian besar ditulis oleh orang Melayu dengan bahasa yang indah tapi terdengar aneh juga karena terlalu banyak ungkapan. Dengan membaca karya sastra kita bisa mengambil hikmah dan gambaran dari sosiokultural setting cerita yang ditulis. Kita juga bisa mencermati kritik sosial dan pesan penulis untuk pembaca yang biasanya terkait dengan nilai moral dan budaya. Satu hal lagi yang saya sukai dari karya sastra angkatan pujangga baru adalah pengungkapan cerita yang ditulis secara santun. Bandingkan dengan karya sastra saat ini, mereka memang lebih kreatif tapi bahasa yang ditulis lebih cenderung vulgar, sarkastik, dan kasar. Sehingga hal tersebut membawa pembaca untuk meniru kata-kata mereka. Dengan alasan kemerdekaan berpikir dan berpendapat, mereka sesuka hati menuangkannya dalam tulisan yang terkadang tidak ada batasan etika dan moral. Jika seorang seniman atau sastrawan itu mempertimbangkan segi tersebut tentu karya sastra itu akan menjadi kontribusi besar bagi perbaikan umat manusia. Akan bermanfaat untuk pembentukan pola pikir dan mental pembacanya. Karena tidak sedikit orang yang pola pikir dan mentalnya terbentuk karena pengaruh dari bacaan yang dia baca, selain faktor lingkungan dan pendidikan yang dia terima.